Sabtu, 02 Oktober 2010

Ada apa dengan negeriku, Indonesia ?

Ini adalah renunganku di malam ini. Aku duduk sendiri di ruang tamu kostanku, sekarang di laptopku menunjukkan pukul 2:20 pagi. Aku masih belum tidur. Sebelum tidur aku ingin berbagi pikiran ini.
Hari ini, maaf salah, maksudku kemarin, 1 Oktober 2010 merupakan Hari Kesaktian Pancasila. Pancasila adalah lambang negara ini. Di dalamnya ada 5 sila yang melandasi negeri ini, Indonesia. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Ketiga, Persatuan Indonesia. Keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan. Kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Yah, ini adalah lima butir Pancasila.

Tapi betapa ironisnya apa yang terjadi kemarin itu. Bayangkan saja seorang Ketua MPR, salah menyebutkan isinya. Setiap butir itu seakan hanya sesuatu yang dihapal di sekolah untuk mendapat nilai yang baik. Akui saja bahwa kita tidak meresapi makna sebenarnya dari setiap butir Pancasila tersebut.
Belum lagi kejadian di Ciampea. Yah, dekat dengan kostanku, Darmaga. Terjadi kerusuhan karena adanya perkampungan yang diduga penganut Ahmadiyah dibakar oleh massa. Bayangkan saja mengapa di hari Kesaktian Pancasila terjadi hal ini ?

Menurut saya sendiri, masalah agama itu merupakan urusan pribadi setiap pribadi. Tidak ada masalah benar atau salah. Anda bukanlah orang suci yang tidak memiliki kesalahan. Jadi Anda tak berhak menyalahkan orang lain.

Bagi saya sendiri, saya sudah menyakini satu agama. Tapi diatas semua itu saya berpegang pada satu kenyakinan dan prinsip saya bahwa saya telah diselamatkan oleh pengorbanan di kayu salib. Saya sudah ditebus lunas dari dosa. Meskipun saya telah ditebus. Meski dosa saya telah dihapuskan, menjadi putih bersih. Bukan berarti saya dapat menghakimi orang lain atau memandang rendah orang lain.

Jangan pernah menjadi hakim atas orang lain. Berkacalah pada diri sendiri. Diri kita memiliki banyak kekurangan. Kita ini manusia. Begitu terbatas dengan banyak kekurangan. Hakim atas hidup kita hanya satu, yaitu Tuhan. Dan jangan pernah menganggap bahwa adalah wakil Tuhan untuk menghukum. Anda salah besar. Anda adalah wakil Tuhan untuk mengoreksi di dalam kasih.

Apakah Anda mengerti apa itu kasih ?
(1) Kasih itu sabar
(2) Kasih itu murah hati
(3) Kasih itu tidak cemburu
(4) Kasih itu tidak memegahkan diri
(5) Kasih itu tidak sombong
(6) Kasih berarti tidak melakukan yang tidak sopan
(7) Kasih berarti tidak mencari keuntungan diri sendiri
(8) Kasih itu tidak pemarah
(9) Kasih berarti tidak menyimpan kesalahan orang lain
(10) Kasih tidak bersukacita karena ketidakadilan, melainkan akan bersorak sorai untuk kebenaran
(11) Kasih itu menutupi segala kekurangan
(12) Kasih itu mempercayai
(13) Di dalam kasih ada pengharapan
(14) Di dalam kasih ada kesabaran menanggung segala sesuatu

Nah, apakah ada kasih itu di dalam hidup kita? Jujur, saya masih belajar untuk memiliki kasih itu. Memiliki kasih ini tidak gampang, malah akan banyak melukai kita. Akan tetapi, meskipun kita merasakan luka, tapi kita harus melupakannya, karena itu juga termasuk kasih.

Jika kita, rakyat Indonesia, benar-benar memiliki kasih itu. Apakah mungkin semua kekacauan ini akan terjadi? Mungkin saja..

Jika para pejabat dan banyak orang yang memiliki kuasa itu memiliki kasih & tidak mementingkan diri sendiri, mereka tidak akan korupsi. Mereka tidak akan curang. Mereka akan berjalan pada rel yang seharusnya. Karena semuanya demi rakyat ini.

Jika rakyat ini tidak mementingkan diri sendiri ataupun kelompoknya, melainkan melihat orang lain, walaupun berbeda dengannya sebagai bagian dari satu kesatuan, Indonesia, sama seperti dirinya. Jika semua rakyat melakukan ini, pastinya juga tidak akan ada perkelahian antar kelompok. Kita semua ini adalah satu kesatuan. Ingatlah itu.

Jika kita memiliki kasih itu, maka semua sila itu akan tercapai. Kita akan memiliki kehidupan beragama yang bertoleransi, tidak ada yang menganggap dirinya di atas yang lain. Sila pertama akan tercapai. Dengan adanya kasih juga, kita akan mengasihi orang lain, bahkan kepada orang yang tak seberuntung seperti kita dan bahkan musuh kita sekalipun. Seperti yang saya katakan sebelumnya, dengan adanya kasih,pasti kita akan bersatu dan akan duduk bersama dalam kasih. Menyelesaikan masalah dengan hikmat kebijaksanaan. Para pemimpin yag mewakili juga akan memiliki hikmat yang luar biasa di dalam memimpin. Dengan kasih semuasilapasti tercapai.

Akan tetapi nyatanya, kasih itu seakan menjauh dari beberapa orang rakyat ini. Di mana kasih itu?? Kasih itu masih ada, tapi tersembunyi di sudut ruang yang paling jauh di hati. Kasih itu terkuncikarena begitu banyak dendam, kebecian, iri, dengki,hawa nafsu, dan berbagai hal buruk lainnya.

Marilah..Panggil kembali kasih itu. Buang segala hal yang kotor di hati.Memang tidak boleh instan, tapi mulailah dari sekarang. Belajarlah. Percayaah bahwa akan ada pemulihan untuk bangsa ini.

Seperti yang tertulis, Kasih itu tak berkesudahan. Jadi, carilah..Kembalilah ke kasis mula-mula yang begitu membara.

Indonesia ini begitu kaya. Tak sadarkan Anda bahwa Anda mendapatkan harta karun yang begitu luar biasa dari Tuhan. Galilah!! Tapi Indonesia begitu besar dan luas. Oleh sebab itu, Anda tidak dapat menggalinya sendiri. Bekerjasamalah dengan teman-teman Anda. Jangan yang hanya satu kelompok. Ingatlah. Bahwa dengan berbeda-beda baru indah namanya. Sama seperti tubuh yang berbeda-beda, memiliki ciri khas dan fungsinya masing-masing. tapi semuanya bekerja sama untuk menjalani hidup.

Renunganlah kehidupan Anda yang begitu berharga. Berbuatlah yang terbaik. Jangan mengeluh terus menerus. Mulailah perubahan itu dari diri Anda sendiri.Kemudian jadikan hidup Anda dampak bagi orang lain. Jika hal ini terus berantai, tidaklah mustahil akan membawa kasih itu kembali kehati setiap rakyat Indonesia.

Wahai para teroris, yang menyebu dirinya sebagai pejuang agama. Agama manapun tidak membenarkan Anda membunuh atau mencabut nyawa orang lain. Meskipun orang tersebut merupakan orang paling kejam atau jahat di dunia, Anda tak berhak membunuhnya. Anda bukanlah Tuhan yang menetukan mana yang harus mati dan mana yang hidup.

Wahai para keluarga teroris yang merasa dirinya diperlakukan tidak adil. Sebelum Anda melaporkan pihak lain, bisakan Anda bercermin. Aku begitu penuh emosi sewaktu berita mengenai salah seorang istri tersangka teroris melapor ke KOMNAS HAM. Sadarkah Anda bahwa Anda tak mempunyai hak, karena Anda sendiri tidak melakukan kewajiban Anda, yaitu menghormati hak orang lain untuk hidup. Dengan mudahnya, dengan alasan agama ataupun dengan alasan ingn menegakkan kebenaran, Anda mencabut hak orang lain untuk hidup, hak asasi yang paling hakiki.Pada saat itu juga Anda tidak memiliki hak atas hak asasi Anda sendiri.

Pernahkah kamu membayangkan bagaimana perasaan dari istri dan anak-anak atau keluarga korban suami Anda, ataupun kelompok suami Anda, atau Anda sendiri ? Tahukah bahwa Anda sendiri dapat dikenai hukuman karena menyembunyikan buronan. Anda pun dihukum karena Anda menyembunyikan kejahatan, dengan kata lain Anda menjadi bagian dari kejahatan itu. Terlebih lagi, wahai kalian para istri, orang tua, atau keluarga teroris yang merasa tak bersalah, malah berkoar-koar meminta perlindungan atau sebagainya, Anda juga patut dipersalahkan. Kalian seua seharusnya menjadi penolong bagi orang tersebut. Penolong yang baik dan sepadan.

Manusia hidup itu memiliki aksud dan arti. jadi berdampaklah positif. Jangan cuek. Jangan menutup mata. Tegurlah di dalam kasih. Tapi tetap ingat, jangan menghakimi.Teruslah mengasihi dan berdoalah untuk mereka.

Yah,maafkan aku.Karena emosiku sebagai manusia biasa terbawa. Aku sendiri begitu marah. Mengapa ada orang-orang seperti ini...Sama seperti orang farisi dan orang saduki. Merasa diri paling benar, sehingga dirinya tak melihat ke dirinya sendiri. Hal inipalig dibenci oleh Tuhan. Tahukah Anda???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar