Minggu, 07 Agustus 2011

menghadapai pencobaan

Pada hari Senin, 18 Juli 2011, aku mendapat kabar dari mama tentang papa. Papa masuk rumah sakit. Hal ini langsun membuatku tidak tenang. Esoknya aku langsung puasa untuk papa. Namun takdisnagka, pada hari Selasa, 19 Juli 2011, aku mendapat kabar bahwa papaku kanker paru-paru stadium 4. Aku tak tahu harus berkata apa. Aku tidak percaya akan hal ini. Kemudian mama menghubungi untuk aku langsung pulang ke Medan esok harinya. Dengan segera mencari tiket untuk pulang ke Medan, akhirnya aku pulang hari Rabu tanggal 20 Juli 2011, jam 12 siang dari Bandara Soekarno Hatta.
Sebenarnya waktu di Jakarta, sejak hari Senin, tanggal 18 Juli 2011, aku selalu menangis. Bahkan waktu di Bandara Soekarno Hatta aku masih terus menangis. Aku sendiri takut, apakah aku akan kuat di depan semuanya untuk tetap bertahan tanpa menangis. Air mata itu seakan jatuh dengan sendirinya. Hatiku terasa amat sangat pedih dan terluka.
Akhirnya setelah tiba di Bandara Polonia, adikku, Samuel yang menjemput. Ia mengingatkan aku untuk tidak menangis di depan papa. Sepanjang perjalanan menuju ke RS Adam Malik, aku berusaha menguatkan diriku.
Puji Tuhan, di depan papa aku tidak menangis. Bahkan hingga saat ini, Tuhan memberi kekuatan ekstra yang luar biasa. Aku tidak menangis karena aku memiliki pengharapan akan muzijat kesembuhan dari Bapa Surgawi.
Amat sangat luar biasa. Lambat laun papa semakin pulih. Dan sangat luar biasa, papa sudah bisa melakukan kemoerapi tanggal 29 Agustus dan 31 Agustus 2011 di RS Herna. Jika Tuhan izinkan, dalam waktu dekat akan dilakukan kemoterapi tahap 2. Mama, aku, dan Samuel yakin papa akan mengalami kesembuhan total. Papa akan menjadi saksi hidup akan kebesaran dan keajaiban Bapa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar