Selasa, 18 Oktober 2011

independent woman

Aku adalah 'independent woman'. Aku memang sudah dilatih dan dididik seperti ini sejak kecil. Terkadang aku akui kalau aku tak mau seperti ini. Aku ingin bersandar dengan seseorang. Namun nyatanya pada saat seseorang bersedia untuk membantu, aku menolaknya. Atau meskipun aku menerima bantuannya, di dalam hatiku aku amat sangat terluka. Aku merasa terluka pada saat lemah dan menerima bantuan. Aku tak suka seperti itu.

Aku terbiasa menyelesaikan masalahku sendiri. Aku bahkan sangat suka untuk dapat membantu menyelesaikan masalah orang lain. Tapi aku tidak suka kalau orang lain ikut campur dengan masalahku atau berlagak dapat membantu. Aku tidak suka seperti itu. Aku membencinya. Amat sangat benci. Itu sangat mengganggu.

Aku terbiasa menceritakan masalahku yang sebenarnya kepada Tuhan Yesus. Oleh sebab itu aku juga kurang suka saat orang lain menyuruh untuk bercerita kepadanya apa yang aku alami. Itu amat menggangguku. Aku merasa lebih nyaman dan aman jika aku menceritakan hanya kepada Tuhan Yesus. Karena aku yakin bahwa pertolongan Tuhan Yesus lebih hebat dari pertolongan manusia manapun, meskipun Tuhan memang bekerja melalui orang-orang di sekitarku.

Aku paling benci dikasihani. Aku paling benci jadi lemah di depan orang lain. Aku paling benci tergantung dengan orang lain. Oleh sebab itu, jangan suruh aku untuk bergantung atau bersandar dengan seorang manusia manapun. Aku hanya percayakan semua hanya pada Tuhan Yesus.

Aku tidak perduli dengan anggapan yang mengatakan bahwa aku tak bisa selamanya sendiri menanggungnya. Aku menanggung semua beban dan pergumulanku bersama Tuhan Yesus. Sebagai seorang wanita, aku amat tidak setuju bahwa harus bergantung pada pria. Aku menolak ini keras. Aku tak mau bergantung dengan pasanganku, sehebat apapun itu. Dan jika pria itu memintaku untuk bersandar padanya itu adalah hal yang paling kubenci nomor satu. Aku benar-benar marah. Aku benar-benar merasa ingin marah.

Aku tidak selemah itu.

Aku bisa menanggung hidupku.. Aku bisa menanggung masa depanku..

Aku tak perlu menggantungkan masalah keluargaku juga pada orang lain. Itu terlalu menjijikkan. Aku paling tidak suka seperti itu.

Kalaupun aku lemah, berhubungan dengan masalah keluarga, pastinya itu hanya jadi tanggung jawab aku, mama, dan adikku, Samuel. Tidak boleh ada orang lain. Karena kami bertiga harus menghadapai semua masalah sebagai tim yang kokoh. Tanpa ada campur tangan pihak lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar