Selasa, 12 Mei 2009

Luka Batin ??? Atau Kebodohan Pribadi????

Luka batin masih sering ku rasakan di dalam hati. Luka oleh orang-orang terdekatku. Sebenarnya ini sepenuhnya bukan kesalahan mereka. Meski begitu aku terkadang merasa ada penolakan seakan-akan aku seorang diri. Padahal sebenarnya aku jelas-jelas tahu dan mengerti bahwa ada satu pribadi yang senantiasa berdiri di sampingku, menantiku dipeluk oleh-Nya.
Aku ingin membebaskan semua perasaan ini. Perasaan ditinggalkan & dilupakan oleh papa dan mama waktu aku SD kelas 1. Mungkin mereka tak menyangka bhw aku menyimpan hal ini hingga sekarang. Dulu waktu aku kelas 1 SD, aku tinggal bersama Tante Salima dan Opung Tante Doli, papa dan mama beserta Samuel tinggal di Bekasi, Jatibening. Papa dan mama berjanji mengajakku pergi ke PRJ (Pekan Raya Jakarta) pada hari Sabtu. Aku tentu saja sangat senang, sejak pulang sekolah aku sudah bersemangat menanti kedatangan papa dan mama. Namun ditnggu hingga malam papa dan mama tak datang, sayangnya pada saat itu papa dan mama masih belum mempunyai handphone. Jadi kami benar-benar tak tahu bagaimana kabarnya. Akhirnya pada jam 9 malam, Tante Salima suruh aku tidur. Jujur pada saat itu aku malah khawatir terjadi sesuatu. Namun keesokan sewaktu papa dan mama datang ke Kalimalang mengunjungi aku, aku tak sengaja mendengar percakapan papa dan mama beserta Tante Salima. Dari percakapan itu, aku baru tahu ternyata kemarin papa dan mama beserta adik Samuel tetap pergi ke Pekan Raya Jakarta tanpa aku, malah bersama Opung Taman Solo. Sungguh hal ini benar-benar membuat aku terluka & ternyata luka ini terus ada. Aku akui bahwa sering sekali aku merasa bahwa apa pun yang ku lakukan aku merasa masih kurang merasa perhatian & kasih sayang keluargaku.
Aku berusaha menjadi seorang yg berprestasi & berusaha menjadi anak baik, selain itu aku juga berusaha menjadi kakak yang baik. Aku merasa ada kebahagiaan setiap mereka bangga & puas atas prestasiku & semua yg terbaik aku lakukan. Aku merasa dgn menjadi yg terbaik, anak teladan, anak baik-baik, kakak yg bertanggung-jawab, berprestasi, dengan begitu aku merasa jauh di atas adikku. Akan tetapi tetap saja aku sering kali merasa apa yang ku dapat & aku lakukan itu semua tak ada artinya, tetap saja aku merasa yang menjadi pusat adalah adikku.
Aku ingat sekali waktu SMA jika aku liburan, aku, mama, dan papa tak boleh jalan-jalan sebelum tunggu Samuel pulang. Namun jika dia yg liburan, pasti mereka jalan-jalan bertiga saja. Sedih sekali bukan ? Mungkin bagi papa dan mama ini bukan merupakan hal yg besar & tak menjadi masalah. Tapi ternyata hal ini tetap saja melukakan hatiku, namun aku tak menyatakan.
Yah, aku memang tipe orang yang tak pernah menyatakan apa yg ada di hati. Bisa dikatakan aku ini benar-benar munafik. Di luar bilang tak ada masalah, namun di dalam menyimpan masalah. Aku bisa tersenyum di depan org yg aku benci sekalipun. Munafik!!!
Makanya aku sangat menyukai masa SMP. Pada saat SMP, aku merasa benar-benar dihormati & dihargai oleh teman-temanku. Aku merasa dipentingkan, aku merasa mendapat tempat yg spesial. Aku senang sekali dgn kebersamaan itu. Ada Maulina, Lia, Ruth, Angela, Agita, Julia Jasmin, Friska, Theresia, Widyasani, Stephanie, Debby, Christine, Fransiska, Selly, Olivia, Shierly, Martin, Denny, Yudhis, Novian, Joseph, Melissa, Erwet, Santonyo, Taufik, Frenky, Andreas, Sonny dan masih banyak lainnya. Aku ingat waktu di SMP, aku menjadi Ketui Kelas I-A. Karena itu, aku menjadi salah satu anggota OSIS sehingga aku juga kenal dgn anak-anak kelas III. Sewaktu aku kelas II, aku memilih tak aktif. Akan tetapi akhirnya aku malah aktif di akhir kelas II. Aku ikut paduan suara & ikut group dance bersama Taufik, Theresia, Agita, Friska, Melissa. Bahkan meski aku kelas II, aku malah banyak dikenal anak kelas III & aku tak mengenal mereka semua. (Hahahahaha, aku sombong sekali). Malah pada awal kelas III, aku menjadi ketua & otak dr acara Ospek anak kelas I. Yah, meskipun kacau sekali, secara persiapan hanya 2 hari.
Namun sayangnya aku malah masuk SMANSA. Memang tak salah masuk ke sana karena di sana aku bertemu dgn teman-teman yg baik, Rano, Fani, Putty, Fitri, Kesuma & yg lainnya. Tapi disinilah aku merasa bahwa aku dipaksakan oleh mama. Mama berkeinginan malah terobsesi utk masuk ke SMANSA, namun sebenarnya aku benar-benar tak suka. Aku menuruti keinginan mama, namun memang yg namanya terpaksa sejak masuk hingga kelas II aku malah menjadi kacau, pertama kalinya aku tak berada dalam 3 besar.
Luka juga pernah ku rasakan dari teman. Aku ingat waktu SD dulu, aku pernah bertengkar oleh Prima bahkan aku dimusuhi oleh teman-teman sekelas. Kalau tak salah aku ada berbicara buruk ttg Prima dgn temanku, aku lupa dgn siapa. Tp besoknya terdengar sampai Prima. Satu hari itu aku benar-benar dimusuhi. Puang sekolah aku benar-benar menangis di pelukan mama. Anehnya besoknya Prima malah peluk aku, bilang balikan. Ya sudahlah.
Luka oleh teman juga ku rasakan wkt SMP. Aku didiamin oleh Maulina setelah ulangan Matematika. Karena beda dari biasanya, ulangan matematika saat itu aku tetap di dalam kelas (biasanya aku, Erwet, Martin, Julia selalu disuruh keluar kelas oleh Pak Pasaribu jika ulangan). Sewaktu belum mulai, Maulina ingatkan utk memberitahu dia saat ulangan. Namun nyatanya pengawasan Pak Pasaribu sangat ketat, beliau langsung mengambil kertas ujianku & menyuruh keluar kelas. Setelah aku masuk ke dalam kelas, aku malah didiami oleh Maulina bahkan terus sampai keesokan harinya. Lebih gawatnya lagi lama kelamaan malah mulai berkembang cerita-cerita buruk ttg aku & keluargaku. Pada awalnya teman-temanku mulai menjauhi aku, tp terakhir mereka malah mendukung aku & menjauhi Maulina. Namun akhirnya kami berbaikan, aku menerimanya kembali menjadi sahabatku. Ternyata kami satu SMA. Di SMA hubungan kami makin erat. Namun nyatanya aku ditusuk dari belakang. Maulina mengambil semua uangku sedikit demi sedikit dari dompet. Bodohnya aku tak meyadarinya. Bahkan waktu papa dan mama menyatakan bahwa yg mencuri kamera portable handphone aku itu Maulina, aku mati-matian membela. Sampai setelah kejadian itu, aku masih kehilangan uang & tak curiga padanya. Aku malah mulai ada curiga setelah diberitahu oleh beberapa teman mengenai siapa yg mengambil uangku kemarin, betapa kagetnya aku ternyata Maulina. Pd hari itu jg terbukti bhw Maulina ingin mencuri handphone aku. Tapi ia tak mengakuinya. Ia malah banyak berkelit, meskipun aku bawa masalah ini ke hadapan ibu BP. Ia malah berkelit bhw aku salah sangka krn sudah termakan omongan orang. Karena desakan yg kuat, aku tak dpt membayar uang kelas yg hilang, akhirnya aku mengaku pd guruku. Lewat interogasi di kantor kepala sekolah, akhirnya ia mengaku & mengembalikan 900ribu rupiah & kameranya. Sebenarnya sudah lebih dari 900ribu, namun sudahlah salah aku.
Aku jg terluka dgn Bang Ronald. Yah, meskipun aku & dia tak ada hubungan lebih dr pertemanan, tp aku memegang janjinya utk saling jujur & ternyata dia tak spt itu. Aku merasa mendapat harapan darinya, namun ternyata tak ada. Hanya aku yg perasaan saja. Anehnya aku malah terluka karenanya. Aku tak tahu sudah berapa banyak air mata yg aku keluarin cuman karena orang gak penting spt dia, secara Bang Ronald bukan siapa-siapa. Puji Tuhan aku bisa mulai mengatur perasaan jauh dari dia.
Tapi anehnya aku terluka karena Bang David. Aku ingat waktu itu cuman karena lihat Bang David jalan dgn cewek & dia malah diam gitu saja. Aku benar-benar kesal. Entah mengapa pada saat itu aku malah tambah dekat dgn Bang Ronald (yah tapi cuman sebentar & semu). Aku lupa berapa bulan kami tak berhubungan hingga akhirnya kami baikan kembali. Bang David kembali dkt dgnku & aku menjauh dr Bang Ronald. Bahkan sampai aku di Bogor, hubungan kami masih lancar dgn bertelepon. Lama kelamaan aku merasa dia seperti dulu, mulai tambah jarak, yah sekali lagi dia menggunakan alasan sibuk dgn kerjaan. Namun akhirnya pada bln September 2007 dia mengaku bhw dia punya pacar. Kontan aku benar-benar terluka, bahkan krn hal ini menyebabkan penyakitku kambuh berkali-kali & membuatku turun hingga 10 kg. Aku jadi kurus sehingga membuat teman-temanku kaget. Namun skrg kami sudah baikan kok.
Di sini juga sebenarnya aku jg merasakan hal ini. Perasaan kesepian di tengah orang-orang. Aku merasa dikhianati & ditinggalkan, terutama dgn teman-teman di sekitarku. Aku merasa mereka tak menganggapku ada. Aku merasa diriku tak memberi dampak. Rasanya tak ada bedanya jika aku ada di sekitar mereka atau aku tak ada. Malah mereka tak peduli jika aku tak ada.
Aku memiliki kekasih yg amat sayang & perhatian dgnku. Namun kami tak mungkin bersama 24 jam. Pd saat aku sendiri tak bersamanya, misalnya saja di kamar sendiri, aku merasa kesepian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar